Rabu, 28 November 2007

SEJARAH GEREJA




A. Sejarah Gereja Katolik di Indonesia


Sejarah Gereja Katolik di Indonesia berawal dari kedatangan bangsa Portugis ke kepulauan Maluku. Orang pertama yang menjadi Katolik adalah orang Maluku, Kolano (kepala kampung) Mamuya (sekarang di Maluku Utara) yang dibaptis bersama seluruh warga kampungnya pada tahun 1534 setelah menerima pemberitaan Injil dari Gonzalo Veloso, seorang saudagar Portugis. Ketika itu para pelaut Portugis baru saja menemukan kepulauan rempah-rempah itu dan bersamaan dengan para pedagang dan serdadu-serdadu, para imam Katolik juga datang untuk menyebarkan Injil. Salah satu pendatang di Indonesia itu adalah Santo Fransiskus Xaverius, yang pada tahun 1546 sampai 1547 datang mengunjungi pulau Ambon, Saparua dan Ternate. Ia juga membaptis beberapa ribu penduduk setempat.

Beberapa era sejarah katolik yang ada di Indonesia sebagai berikut :

* Era VOC

* Era Hindia-Belanda

* Van Lith

* Era Perjuangan Kemerdekaan

* Era Kemerdekaan



1).
Era VOC

Sejak kedatangan dan kekuasaan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Indonesia tahun 1619 - 1799, akhirnya mengambil alih kekuasaan politik di Indonesia, Gereja Katolik dilarang secara mutlak dan hanya bertahan di beberapa wilayah yang tidak termasuk VOC yaitu Flores dan Timor.

Para penguasa VOC beragama Protestan, maka mereka mengusir imam-imam Katolik yang berkebangsaan Portugis dan menggantikan mereka dengan pendeta-pendeta Protestan dari Belanda. Banyak umat Katolik yang kemudian diprotestankan saat itu, seperti yang terjadi dengan komunitas-komunitas Katolik di Amboina.

Imam-imam Katolik diancam hukuman mati, kalau ketahuan berkarya di wilayah kekuasaan VOC. Pada 1924, Pastor Egidius d'Abreu SJ dibunuh di Kastel Batavia pada zaman pemerintahan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen, karena mengajar agama dan merayakan Misa Kudus di penjara.

Pastor A. de Rhodes, seorang Yesuit Perancis, pencipta huruf abjad Vietnam, dijatuhi hukuman berupa menyaksikan pembakaran salibnya dan alat-alat ibadat Katolik lainnya di bawah tiang gantungan, tempat dua orang pencuri baru saja digantung, lalu Pastor A. de Rhodes diusir (1646).

Yoanes Kaspas Kratx, seorang Austria, terpaksa meninggalkan Batavia karena usahanya dipersulit oleh pejabat-pejabat VOC, akibat bantuan yang ia berikan kepada beberapa imam Katolik yang singgah di pelabuhan Batavia. Ia pindah ke Makau, masuk Serikat Jesus dan meninggal sebagai seorang martir di Vietnam pada 1737.

Pada akhir abad ke-18 Eropa Barat diliputi perang dahsyat antara Perancis dan Britania Raya bersama sekutunya masing-masing. Simpati orang Belanda terbagi, ada yang memihak Perancis dan sebagian lagi memihak Britania, sampai negeri Belanda kehilangan kedaulatannya. Pada tahun 1806, Napoleon Bonaparte mengangkat adiknya, Lodewijk atau Louis Napoleon, seorang Katolik, menjadi raja Belanda. Pada tahun 1799 VOC bangkrut dan dinyatakan bubar.


2). Era Hindia-Belanda

Perubahan politik di Belanda, khususnya kenaikan tahta Raja Lodewijk, seorang Katolik, membawa pengaruh yang cukup positif. Kebebasan umat beragama mulai diakui pemerintah. Pada tanggal 8 Mei 1807 pimpinan Gereja Katolik di Roma mendapat persetujuan Raja Louis Napoleon untuk mendirikan Prefektur Apostolik Hindia Belanda di Batavia (lihat: Sejarah Gereja Katedral Jakarta)

Pada tanggal 4 April 1808, dua orang Imam dari Negeri Belanda tiba di Jakarta, yaitu Pastor Jacobus Nelissen, Pr dan Pastor Lambertus Prisen, Pr. Yang diangkat menjadi Prefek Apostolik pertama adalah Pastor J. Nelissen, Pr.

Gubernur Jendral Daendels (1808-1811) berkuasa menggantikan VOC dengan pemerintah Hindia Belanda. Kebebasan beragama kemudian diberlakukan, walaupun agama Katolik saat itu agak dipersukar. Imam saat itu hanya 5 orang untuk memelihara umat sebanyak 9.000 orang yang hidup berjauhan satu sama lainnya. Akan tetapi pada tahun 1889, kondisi ini membaik, di mana ada 50 orang imam di Indonesia. Di daerah Yogyakarta, misi Katolik dilarang sampai tahun 1891.


3). Van Lith

Misi Katolik di daerah ini diawali oleh Pastor F. van Lith, SJ yang datang ke Muntilan pada tahun 1896. Pada awalnya usahanya tidak membuahkan hasil yang memuaskan, akan tetapi pada tahun 1904 tiba-tiba 4 orang kepala desa dari daerah Kalibawang datang ke rumah Romo dan mereka minta untuk diberi pelajaran agama. Sehingga pada tanggal 15 Desember 1904, rombongan pertama orang Jawa berjumlah 178 orang dibaptis di sebuah mata air Semagung yang terletak di antara dua batang pohon Sono. Tempat bersejarah ini sekarang menjadi tempat ziarah Sendangsono.

Romo van Lith juga mendirikan sekolah guru di Muntilan yaitu Normaalschool di tahun 1900 dan Kweekschool (Sekolah Pendidikan Guru) di tahun 1904. Pada tahun 1918 sekolah-sekolah Katolik dikumpulkan dalam satu yayasan, yaitu Yayasan Kanisius. Para imam dan Uskup pertama di Indonesia adalah bekas siswa Muntilan. Pada permulaan abad ke-20 gereja Katolik berkembang pesat.

Pada 1911 Van Lith mendirikan Seminari Menengah. Tiga dari enam calon generasi pertama dari tahun 1911-1914 ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1926 dan 1928, yaitu Romo F.X.Satiman, SJ, A. Djajasepoetra, SJ, dan Alb. Soegijapranata, SJ.


4). Era Perjuangan Kemerdekaan

Albertus Soegijapranata menjadi Uskup Indonesia yang pertama ditahbiskan pada tahun 1940.

Tanggal 20 Desember 1948 Romo Sandjaja terbunuh bersama Frater Hermanus Bouwens, SJ di dusun Kembaran dekat Muntilan, ketika penyerangan pasukan Belanda ke Semarang yang berlanjut ke Yogyakarta dalam Agresi Militer Belanda II. Romo Sandjaja dikenal sebagai martir pribumi dalam sejarah Gereja Katolik Indonesia.

Mgr. Soegijapranata bersama Uskup Willekens SJ menghadapi penguasa pendudukan pemerintah Jepang dan berhasil mengusahakan agar Rumah Sakit St. Carolus dapat berjalan terus.

Banyak di antara pahlawan-pahlawan nasional yang beragama Katolik, seperti Adisucipto,_Agustinus (1947), Ignatius Slamet Riyadi (1945) dan Yos Sudarso (1961).


5). Era Kemerdekaan

Kardinal pertama di Indonesia adalah Justinus Kardinal Darmojuwono diangkat pada tanggal 29 Juni 1967. Gereja Katolik Indonesia aktif dalam kehidupan Gereja Katolik dunia. Uskup Indonesia mengambil bagian dalam Konsili Vatikan II (1962-1965).

Paus Paulus VI berkunjung ke Indonesia pada 1970. Kemudian tahun 1989 Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Indonesia. Kota-kota yang dikunjunginya adalah Jakarta, Medan (Sumatra Utara), Yogyakarta (Jawa Tengah dan DIY), Maumere (Flores) dan Dili (Timor Timur).


ARTI DAN MAKNA GEREJA

Pengertian Umat Allah mempunyai ciri :

  1. Umat Allah merupakan suatu pilihan dan panggilan dari Allah sendiri

  2. Umat Allah adalah bangsa terpilih dan terpanggil

  3. Umat Allah dipanggil dan dipilih untuk misi menyelamatkan dunia

  4. Hubungan Allah dengan umatNya dimeteraikan oleh perjanjian dan harus menaati perintahnya dan Allah menepati janjiNya

  5. Umat Allah selalu dalam perjalanan melewati padang pasir menujju tanah terjanji


Gereja sebagai persekutuan umat lebih menampakan:

  • Persaudaraan antar umat

  • Keterlibatan hidup menggereja

  • Peranan hati nurani dan tanggung jawab

  • Semangat kesederhananan dan hati terbuka


Dalam Lumen Gentium II, umat Allah dilukiskan sebagai persekutuan:

  • Roh kudus

  • Hidup

  • Cinta kasih

  • Kebenaran


MODEL-MODEL GEREJA

  1. Gereja institusional, menonjolkan :

  • organisasi berpiramidal

  • kepemimpinan tertabis

  • hukum: untuk menjaga kelangsungan institusi

  • sikap triumfalistik dan tertutup


2. Gereja sebagai persekutuan umat menonjolkan:

  • hidup persaudaraan

  • keikutsertaan umat dalam bergereja

  • hukum memang perlu,tetapi dibutuhkan pula peranan hati nurani dan tnaggung jawab pribadi

  • sikap miskin sederhana dan terbuka



SIFAT - SIFAT GEREJA

SIFAT GEREJA KATHOLIK


1. SATU

Semua anggota gereja mengimani satu Tuhan, mempraktekkan satu iman, satu dalam komuni, dan ada di bawah kepala gereja yang satu, yaitu paus, yang mewakili kepala gereja yang tidak kelihatan, yaitu Yesus Kristus ( Yoh 10:16 ).

Konsili Vatikan II menyatakan bahwa ” Pola dan prinsip terluhur misteri kesatuan gereja ialah kesatuan Allah yang tunggal dalam tiga pribadi, Bapa, Putera, dan Roh Kudus” (UR 2). ”Allah telah berkenan menghimpun orang-orang yang beriman akan kristus menjadi umat Allah” ( 1Ptr 2:5-10) dan ”membuat mereka menjadi satu tubuh” ( 1Kor 12:12), (AA 18).

Kesatuan gereja itu sendiri tidak sama dengan keseragaman. Kesatuan gereja lebih tepat dimengerti sebagai ”Bhineka Tunggal Ika”, yang dimaksud sebagai kesatuan iman yang mungkin diucapkan dengan cara berbeda. Oleh karena itu, kesatuan lahir bukan dari keseragaman atau kesamaan, melainkan dari persekutuan dalam persaudaraan, baik dalam pengungkapan iman liturgis & katekis, maupun dalam perwujudan persekutuan dalam organisasi atau penampilan dalam masyarakat.

Kesatuan gereja harus diwujudkan dalam persekutuan kongkret antar umat beriman yang terarah pada kesatuan semua orang yang ”Berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni” (2Tim 2:22).

2. KUDUS

Kita mengimani bahwa gereja tidak dapat kehilangan kesuciannya. Sebab Kristus, Putra Allah, yang bersama dengan dengan Bapa dan Roh, dipuji bahwa ’Hanya Dialah yang kudus’ , mengasihi gereja sebagai mempelaiNya.” (IG 39). Gereja itu kudus karena Kristus membuatnya Kudus.

Kekudusan gereja bukanlah suatu sifat yang seragam, melainkan semua mengambil bagian dalam satu kesucian gereja yang berasal dari Kristus, yang mengikut sertakan gereja dalam gerakanNya kepada Bapa dan Roh kudus.

Kudus menentukan hubungan dengan Allah. Maka Tuhan bersabda, ” Hendaklah kamu kudus, sebab Kuduslah Aku, Yahwe, Allahmu.” ( Im 19:2).

karena pendiriannya, Yesus Kristus adalah kudus; gereja mengajarkan ajaranNya yang kudus, yang memungkinkan kita menjadi kudus ( 1 Pet 1:15 ). Yesus Kristus, kepala gereja yang tak pernah nampak, menyatakan kekudusanNya lewat ajaran-ajaranNya yang murni tanpa cacat cela yang Ia wartakan semasa hidupNya. Yesus menghendaki kita agar mengikutiNya (Mat 5:48 ). Dan melalui gereja dan 7 sakramen yang Ia tetapkan, Yesus menunjukkan jalanNya kepada kita. Setiap Sakramen & ajaran Gereja mendekatkan kekudusan ke dalam jangkauan kita.

Perjanjian Baru melihat proses pengudusan manusia sebagai ” Pengudusan oleh Roh.” ( 1Ptr 1:2 ; 2Tes 2:13).


3. KATOLIK

Dalam setiap jemaat setempat hadirlah gereja gereja seluruhnya. Gereja katholik yang satu dan tunggal berada dalam gereja-gereja setempat dan terhimpun daripadanya.” ( IG 23).

Gereja Katholik adalah KATOLIK ( Bahasa Yunani; yaitu ” umum ” ); dalam 3 hal. Umum menurut waktu, karena sejak Kristus mengutus para rasulNya hingga saat ini, Gereja berdiri, mengajar, serta berkarya, untuk membawa orang datang pada Kristus. Umum menurut tempat, karena gereja tidak terikat pada bangsa manapun. Gereja terbuka bagi semua orang ( Mat 28:19 ). Umum menurut ajarannya, karena gereja menawarkan ajaran-ajaran dan sakramen-sakramen yang sama dimanapun, dalam bahasa apapun, dan dalam segala tingkatan social.

4.APOSTOLIK

    Gereka Katholik adalah APOSTOLIK karena didirikan oleh Kristus atas para Apostolos ( Bahasa Latin : ”Rasul” ) yang tetap berpegang teguh padaNya dan senantiasa dipimpin oleh para penerus mereka.

Keapostolikkan berarti bahwa dalam perkembangan hidup, tergerak oleh Roh Kudus, gereja senantiasa berpegang pada gereja para rasul sebagai norma imannya.

Keapostolikkan berarti bahwa seluruh gereja dan setiap anggotanya tidak hanya bertanggung jawab atas ajaran gereja, tetapi juga atas pelayanannya.

Setelah Kristus menetapkan ke-12 rasulNya sebagai para imam dan para uskup pertama, selanjutnya mereka menetapkan para rasul lain ( Kis 1:23 ), para diakon ( Kis 6:5 ), para imam ( 1Tim 4:14 ), para uskup ( Flp 1:1 ), dan para murid guna melestarikan ajaran-ajaran Kristus.

HIERARKI GEREJA

Hierarki Gereja Katolik dimulai dari para Uskup (sebagai Dewan) dan Ketuanya, yaitu

1.Paus.

Konsili Suci mengajarkan, bahwa atas penetapan ilahi, para uskup menggantikan para rasul sebagai gembala Gereja” (Lumen Gentium 20). Lumen Gentium adalah Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II tentang Gereja.




2.Imam

merupakan “penolong dan organ para uskup” (Lumen Gentium 28) Didalam Gereja Katolik ada imam diosesan (sebutan yang sering dipakai imam praja) dan imam religius (ordo atau kongregasi).

3.Imam diosesan

adalah imam keuskupan yang terikat dengan salah satu keuskupan tertentu dan tidak termasuk ordo atau kongregasi tertentu. Imam religius (misalnya SJ, MSF, OFM, dsb) adalah imam yang tidak terikat dengan keuskupan tertentu, melainkan lebih terikat pada aturan ordo atau kongregasinya.

4.Diakon

adalah pembantu Uskup dan Imam dalam pelayanan terhadap umat beriman. Mereka ditahbiskan untuk mengambil bagian dalam imamat jabatan. Karena tahbisannya ini, maka seorang diakon masuk dalam kalangan hirarki. Di Gereja Katolik ada 2 macam Diakon, yaitu :
1) mereka yang dipersiapkan untuk menerima tahbisan Imam .
2) mereka yang menjadi Diakon untuk seumur hidupnya tanpa menjadi Imam.


5.Kardinal

adalah merupakan gelar kehormatan. Kata “kardinal” berasal dari kata Latin”cardo” yang berarti “engsel”, dimana seorang Kardinal dipilih menjadi asisten-asisten kunci dan penasehat dalam berbagai urusan gereja. Kardinal dapat dipilih dari kalangan Imam ataupun Uskup. Di Indonesia telah ada 2 orang Kardinal, yaitu Yustinus Kardinal Darmojuwono Pr (alm.) dan Julius Kardinal Darmaatmaja SJ.

Bagi kaum awam, perutusan Gereja Katolik bukan saja dibidang liturgi dan pewartaan, tetapi juga dibidang pengembalaan. Misalnya sebagai:


1. Pengurus Dewan Paroki Tugasnya adalah memikirkan, merencanakan, memutuskan dan mempertanggung-jawabkan hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan dan karya paroki. Misalnya kegiatan pewartaan sabda, perayaan liturgi dan membangun masyarakat.
2. Pengurus Wilayah atau Stasi Tugasnya adalah mengkoordinasi kegiatan antar lingkungan yang berada didalam wilayah Dewan Parokinya.
3. Pengurus Lingkungan Tugasnya adalah menampung dan menyalurkan masalah-masalah yang ada di lingkungan kepada Dewan Paroki atau Pastor Parokinya. Juga mengadakan pendataan dalam lingkungan atau kelompok dan mengadakan pertemuanbersama dengan Pengurus Kelompok.
4. Pengurus Kelompok Tugasnya adalah menjadi tumpuan utama dan pertama untuk mengembangkan kehidupan umat Katolik. Merekalah yang melakukan berbagai program lingkungan dalam rangka pembinaan umat.


HUBUNGAN AWAM DAN HIERARKI SEBAGAI PARTNER KERJA


A. Arti dan Pengertian tentang awamKaum
awam : semua orang beriman kristiani yang tidak termasuk golongan yang menerima tahbisan suci dan status kebirawanan yang diakui dalam gereja (Lumen Gentium, art. 31).

- Definisi awam dalam praktek & dalam dokumen resmi gereja :

  1. Definisi teologis
    Awam adalah warga gereja yang tidak ditahbiskan. Awam meliputi biarawan seperti suster dan bruder yang tidak menerima tahbisan suci.

  2. Definisi tipologis
    Awam adalah warga gereja yang tidak ditahbiskan dan juga bukan biarawan/biarawati. Awam tidak mencakup para bruder dan suster.

B. Peranan awam

  1. Kerasulan dalam tata dunia

Awam bertugas mencari kerajaan Allah dengan mengusahakan hal duniawi dan mengatur sesuai kehendak Allah. Mereka dipanggil Allah agar sambil menjalankan tugas khasnya dan dibimbing oleh semangat injil, mereka dapat menguduskan dunia dari dalam laksana ragi (Lumen Gentium, art.31).

Awam dapat menjalankan kerasulan dengan kegiatan penginjilan dan pen

gudusan manusia serta memantapkan semangat injil ke dalam TATA DUNIA sehingga kegiatan secara sungguh-sungguh memberi kesaksian tentang kristus dan melayani keselamatan manusia. TATA DUNIA dengan kata lain adalah medan bakti khas kaum awam.

Dengan paham gereja sebagai ’Tanda dan Sarana Keselamatan Dunia’, maka dunia dan lingkungan mulai diterima sebagai ruang lingkup keberadaan dan kegiatan gereja.

Iman tidak hanya menghubungkan kita dengan Tuhan, tetapi juga dengan sesama.

Kerasulan dalam Gereja

Tugas ini pada dasarnya lebih dipercayakan kepada golongan hierarki, tetapi para awam dituntut pula untuk mengambil bagian di dalamnya. Awam hendaknya turut berpartisipasi dalam tri tugas Gereja, yaitu :

1. Dalam tugas nabiah :

- Mengajar agama sebagai katekis atau guru agama;

- Memimpin kegiatan pendalaman kitab suci atau pendalaman iman;

2.Dalam tugas imamiah :

- Memimpin doa dalam pertemuan-pertemuan umat;

- Memimpin koor;

- Membagi komuni sebagai prodiakon;

- Menjadi pelayan altar;

3. Dalam tugas gerejawi :

    - Menjadi anggota dewan paroki;

    - Menjadi ketua seksi, ketua lingkungan;

    C.Hubungan awam dan hierarkia.Gereja adalah umat Allah

Semua anggota Umat Allah memiliki martabat yang sama. Yang berbeda hanyalah fungsinya. Keyakinan ini harus diimplementasikan secara konsekuen dalam hidup dan karya semua anggota gereja.

b. Setiap Komponen Gereja Memiliki Fungsi yang Khas
Hierarki bertugas memimpin dan mempersatukan seluruh umat Allah. Biarawan/biarawati dengan kaul bertugas mengarahkan umat kepada dunia yang a kan dating (eksatologis). Para awam bertugas merasul dalam tata dunia.

c. Kerja Sama
Walau tiap komponen gereja memiliki fungsinya masing-masing, namun untuk bidang dan kegiatan tertentu, terlebih dalam membangun hidup menggereja, masih dibutuhkan partisipasi


TUGAS - TUGAS GEREJA




1. MEWARTAKAN (KERYGMA)
Tugas gereja dalam mewartakan adalah sebagai berikut :

Pewarta sabda
: Kristus, sabda Allah, menciptakan gereja. Gereja berasal dari Kristus

Gereja adalah Sabda

: Kristus dapat hadir & bicara dalam sejarah manusia, dan gereja merupakan pewartaan & kesaksian tentang Yesus Kristus, Sabda, dan wahyu Allah.

Mengajar Magistarium
: Tugas hirarki dalam mengajar adalah pengajaran, perumusan iman sesuai situasi & perkembangan zaman.
: Tugas pewartaannya yakni tugas panggilan setiap orang yang percaya pada Kristus, contohnya: imam, biarawan, biarawati.

2. MENGUDUSKAN (LITURGIA)

Pengudusan dalam perayaan

Gereja tampil istimewa dalam keikutsertaan penuh & aktif seluruh umat Allah yang kudus dalam perayaan liturgi ( persekutuan iman).




Media-cara :
Doa gereja – Doa di dalam gereja
: Doa gereja, Doa umum, doa bersama, dalam bentuk liturgi ( Yunani, leitourgia ) atau lebih dikenal sebagai ibadat resmi gereja, yakni kesatuan gereja dengan kristus melalui doa.
: Doa dalam gereja, Doa pribadi.


Sakramen

: Sakramen sebagai sarana untuk menyampaikan
kepada umat manusia tentang rahasia penyelamatan Allah.
: Sakramen menunjukkan tindakan Allah kepada kita.
: Ada 7 sakramen dalam gereja

  1. Babtis

    Pembaptisan adalah sakramen pertama dan mendasar dalam inisiasi Kristiani. Sakramen ini dilayankan dengan cara menyelamkan si penerima ke dalam air atau dengan mencurahkan (tidak sekedar memercikkan) air ke atas kepala si penerima "dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus" (Matius 28:19). Pelayan sakramen ini biasanya seorang uskup atau imam, atau (dalam Gereja Latin, namun tidak demikian halnya dalam Gereja Timur) seorang diakon.

    Dalam keadaan darurat, siapapun yang berniat untuk melakukan apa yang dilakukan Gereja, bahkan jika orang itu bukanlah seorang Kristiani, dapatmembaptis.

    Pembaptisan membebaskan penerimanya dari dosa asal serta semua dosa pribadi dan dari hukuman akibat dosa-dosa tersebut, dan membuat orang yang dibaptis itu mengambil bagian dalam kehidupan Tritunggal Allah melalui "rahmat yang menguduskan" (rahmat pembenaran yang mempersatukan pribadi yang bersangkutan dengan Kristus dan Gereja-Nya).

    Pembaptisan juga membuat penerimanya mengambil bagian dalam imamat Kristus dan merupakan landasan komuni (persekutuan) antar semua orang Kristen.

    Jika seseorang secara resmi menyatakan tobat dan imannya pada Kristus, serta bertekad ikut serta dalam tugas panggilan Kristus, maka ia diterima dalam umat dengan sakramen permandian.
    Orang yang menerima sakramen permandian diterima oleh Kristus menjadi anggota tubuhNya, umat Allah (Gereja), orang tersebut laksana baru lahir dalam gereja.
    Orang yang telah dipermandikan harus siap hidup bagi Allah.
    Perayaan dalam peristiwa permandian berupa pencurahan air pada dahi, dan imam berkata, ”Aku mempermandikan engkau dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus”.

2.Krisma
Penguatan atau Krisma adalah sakramen kedua dalam inisiasi Kristiani. Sakramen ini diberikan dengan cara mengurapi penerimanya dengan Krisma, minyak yang telah dicampur sejenis balsam, yang memberinya aroma khas, disertai doa khusus yang menunjukkan bahwa, baik dalam variasi Barat maupun Timurnya, karunia Roh Kudus menandai si penerima seperti sebuah meterai. Melalui sakramen ini, rahmat yang diberikan dalam pembaptisan "diperkuat dan diperdalam" (KGK 1303). Seperti pembaptisan, penguatan hanya diterima satu kali, dan si penerima harus dalam keadaan layak (artinya bebas dari dosa-maut apapun yang diketahui dan yang belum diakui) agar dapat menerima efek sakramen tersebut. Pelayan sakramen ini adalah seorang uskup yang ditahbiskan secara sah; jika seorang imam (presbiter) melayankan sakramen ini — sebagaimana yang biasa dilakukan dalam Gereja-Gereja Timur dan dalam keadaan-keadaan istimewa (seperti pembabtisan orang dewasa atau seorang anak kecil yang sekarat) dalam Gereja Ritus-Latin (KGK 1312–1313) — hubungan dengan jenjang imamat di atasnya ditunjukkan oleh minyak (dikenal dengan nama krisma atau myron) yang telah diberkati oleh uskup dalam perayaan Kamis Putih atau pada hari yang dekat dengan hari itu. Di Timur sakramen ini dilayankan segera sesudah pembaptisan. Di Barat, di mana administrasi biasanya dikhususkan bagi orang-orang yang sudah dapat memahami arti pentingnya, sakramen ini ditunda sampai si penerima mencapai usia awal kedewasaan; biasanya setelah yang bersangkutan diperbolehkan menerima sakramen Ekaristi, sakramen ketiga dari inisiasi Kristiani. Kian lamakian dipulihkan urut-urutan tradisional sakramen-sakramen inisiasi ini, yakni diawali dengan pembaptisan, kemudian penguatan, barulah Ekaristi. Krisma menjadi tanda kedewasaan, untuk turut serta bertanggung jawab atas kehidupan Umat Allah dan pada sesama.

3.Tobat
Sakramen Tobat, dan Sakramen Pengampunan(KGK 1423–1424). Sakramen ini adalah sakramen penyembuhan rohani dari seseorang yang telah dibaptis yang terjauhkan dari Allah karena telah berbuat dosa. Sakramen ini memiliki empat unsur: penyesalan si peniten (si pengaku dosa) atas dosanya (tanpa hal ini ritus rekonsiliasi akan sia-sia), pengakuan kepada seorang imam (boleh saja secara spirutual akan bermanfaat bagi seseorang untuk mengaku dosa kepada yang lain, akan tetapi hanya imam yang memiliki kuasa untuk melayankan sakramen ini), absolusi (pengampunan) oleh imam, dan penyilihan.

"Banyak dosa yang merugikan sesama. Seseorang harus melakukan melakukan apa yang mungkin dilakukannya guna memperbaiki kerusakan yang telah terjadi (misalnya, mengembalikan barang yang telah dicuri, memulihkan nama baik seseorang yang telah difitnah, memberi ganti rugi kepada pihak yang telah dirugikan). Keadilan yang sederhana pun menuntut yang sama. Akan tetapi dosa juga merusak dan melemahkan si pendosa sendiri, serta hubungannya dengan Allah dan sesama. Si pendosa yang bangkit dari dosa tetap harus memulihkan sepenuhnya kesehatan rohaninya dengan melakukan lagi sesuatu untuk memperbaiki kesalahannya: dia harus 'melakukan silih bagi' atau 'memperbaiki kerusakan akibat' dosa-dosanya. Penyilihan ini juga disebut 'penitensi'" (KGK 1459). Pada awal abad-abad Kekristenan, unsur penyilihan ini sangat berat dan umumnya mendahului absolusi, namun sekarang ini biasanya melibatkan suatu tugas sederhana yang harus dilaksanakan oleh si peniten, untuk melakukan beberapa perbaikan dan sebagai suatu sarana pengobatan untuk menghadapi pencobaan selanjutnya. Para pengikut Kristus perlu bertobat secara terusmenerus dihadapan Allah dan sesama. Tanda pertobatan tersebut diterima dalam perayaan sakramen tobat.

4.Ekaristi
Sejak jaman rasul, umat kristiani berkumpul untuk bersyukur kepada Allah Bapa yang telah membangkitkan Kristus dan menjadikanNya penyelamat. Itu menjadi tanda terbentuknya suatu Ekaristi. Ekaristi adalah sakramen (yang ketiga dalam inisiasi Kristiani) yang dengannya umat Katolik mengambil bagian dari Tubuh dan Darah Yesus Kristus serta turut serta dalam pengorbanan diri-Nya. Aspek pertama dari sakramen ini (yakni mengambil bagian dari Tubuh dan Darah Yesus Kristus) disebut pula Komuni Suci. Roti (yang harus terbuat dari gandum, dan yang tidak diberi ragi dalam ritus Latin, Armenia dan Ethiopia, namun diberi ragi dalam kebanyakan Ritus Timur) dan anggur (yang harus terbuat dari buah anggur) yang digunakan dalam ritus Ekaristi, dalam iman Katolik, ditransformasi dalam segala hal kecuali wujudnya yang kelihatan menjadi Tubuh dan Darah Kristus, perubahan ini disebut transubstansiasi. Hanya uskup atau imam yang dapat menjadi pelayan Sakramen Ekaristi, dengan bertindak selaku pribadi Kristus sendiri. Diakon serta imam biasanya adalah pelayan Komuni Suci, umat awam dapat diberi wewenang dalam lingkup terbatas sebagai pelayan luar biasa Komuni Suci. Ekaristi dipandang sebagai "sumber dan puncak" kehidupan Kristiani, tindakan pengudusan yang paling istimewa oleh Allah terhadap umat beriman dan tindakan penyembahan yang paling istimewa oleh umat beriman terhadap Allah, serta sebagai suatu titik dimana umat beriman terhubung dengan liturgi di surga.

5.Perminyakan
Pengurapan Orang Sakit adalah sakramen penyembuhan yang kedua. Dalam sakramen ini seorang imam mengurapi si sakit dengan minyak yang khusus diberkati untuk upacara ini. "Pengurapan orang sakit dapat dilayankan bagi setiap umat beriman yang, karena telah mencapai penggunaan akal budi, mulai berada dalam bahaya yang disebabkan sakit atau usia lanjut" (kanon 1004; KGK 1514). Baru menderita sakit ataupun makin memburuknya kondisi kesehatan membuat sakramen ini dapat diterima berkali-kali oleh seseorang.

Dalam tradisi Gereja Barat, sakramen ini diberikan hanya bagi orang-orang yang berada dalam sakratul maut, sehingga dikenal pula sebagai "Pengurapan Terakhir", yang dilayankan sebagai salah satu dari "Ritus-Ritus Terakhir". "Ritus-Ritus Terakhir" yang lain adalah pengakuan dosa (jika orang yang sekarat tersebut secara fisik tidak memungkinkan untuk mengakui dosanya, maka minimal diberikan absolusi, yang tergantung pada ada atau tidaknya penyesalan si sakit atas dosa-dosanya), dan Ekaristi, yang bilamana dilayankan kepada orang yang sekarat dikenal dengan sebutan "Viaticum", sebuah kata yang arti aslinya dalam bahasa Latin adalah "bekal perjalanan".

6.Perkawinan
pernikahan atau perkawinan seperti imamat,adalah suatu sakramenn yang mengkoesersi penerimanya guna suatu misi khusus dalam pembangunan gereja,serta menganugrahkan rahmat demi perampungan misi tersebut. Sakramen ini yang dipandang menjadi suatu tada cinta kasih yang menyatukan Kristus dengan Gereja menetapkan diantara 2 pasangan suatu ikatan yang bersifat permanen dan eksklusif, yang dimateraikan oleh Allah.dengan demikian pernikahan antara pria yang sudah dibabtis dengan wanita yang sudah di babtis telah dimasuki secara sah dan telah dsempurnakan dengan persetubuhan, tidak dapat diceraikan. Sakramen ini menganugerahkan kepada pasangan yang bersangkutan rahmat yang mereka perlukan untuk mencapai kekudusan dalam hidup perkawinan mereka serta untuk meghasilkandan mengasuh anak mereka dengan penuh tanggung jawab

7. Imamat
Umat membutuhkan pelayan yang bertugas demi kepentingan dan perkembangan umat dalah hidup bermasayarakat
Pelantikan para pelayan itu dinyatakan dalam tahbisan sakramen imamat.

Melayani (Diakonia)
: Yesus datang untuk melayani bukan dilayani. Sebagai murid kristus maka kita juga harus mengambil sikap untuk melayani, bukan dilayani.
: Saling melayani,prinsip dasar kehidupan gereja, itulah panggilan gereja menurut hidup Kristus.
: Pelayanan dalam perwujudan iman kristiani adalah dengan mengikuti jejak kristus.
: Pelayanan dalam hal ini adalah kerjasama, tolong menolong, saling membantu, menyadari, dan menghayati bahwa kemerdekaan adalah kesempatan untuk melayani sesama yang tercapai dalam kebersamaan dan persaudaraan.

: Ciri-ciri pelayanan :

  • Ciri religius,pelayanan mempunyai dasar dalam ketaatan kepada Allah sang pencipta. ( HK. Kasih 1 ) ”Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap”

  • Kesetiaan pada Kristus sebagai Tuhan dan Guru,Pelayanan merupakan wujud konkret untuk memberi teladan bahwa kita adalah murid Kristus.



3.MENGAMBIL BAGIAN DALAM SENGSARA DAN PENDERITAAN KRISTUS; YAITU SENASIB DENGAN ORANG-ORANG MENDERITA

Pelayanan diwujudkan dengan menolong, meng utamakan orang-orang yang membutuhkan, yaitu orang-orang miskin.

Dalam hal ini pelayanan gereja adalah dengan melibatkan diri dalam usaha membebaskan umat manusia dari penderitaan & kemiskinan.


4. KERENDAHAN HATI
Dalam hal ini tidak boleh membanggakan pelayanannya, tapi mengakui keterbatasan usaha manusia, menerima dunia & umat manusia apa adanya, menghayati sikap Kristus dihadapan sesama.

Wujud pelayanan gereja :
Kegiatan social gereja ( sebagai perwujudan iman ),membangun yayasan pendidikan serta yayasan kesehatan katholik juga organisasi & perkumpulan untuk membangun kesejahteraan masyarakat.
Gereja dengan Negara

: Dalam usaha pembangunan, Gereja mengharapkan tokoh-tokoh dan masyarakat kristiani untuk berpartisipasi dalam upaya pembangunan sesuai keahlian & panggilan serta dapat memberi teladan kejujuran & keadilan yang layak di tiru.
: Gereja mendukung segala waha pemupuk toleransi & kerukunan antar umat beragama serta solidaritas terhadap kaum miskin.
: Dalam upaya hukum, gereja mendukung usaha perlindungan HAM atas dasar manusiawi.
: Gereja mendukung usaha swadaya dalam kemasyarakatan, budaya, dan bernegara, agar potensi dan keterlibatan warga Negara dikembangkan sesuai tujuan Negara.